HORMAT KEPADA GURU
NILAI KEPENDIDIKAN QS.
AN-NAHL[16]: AYAT 43 (Akhlak Kepada Guru)
Oleh: Danial Muhammad
Latar Belakang
Guru
adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi
lebih baik sebagaimana yang diridhoi Allah SWT. Sebagaimana wajib hukumnya
mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama
perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.
Anak
adalah aset yang sangat berharga, titipan Tuhan yang perlu diberi pendidikan
yang baik dan benar agar potensi diri mereka berkembang optimal menjadi manusia
berbudi luhur, cerdas, cakap, berharga, dan mampu menjalani kehidupan bermakna
saat dewasa kelak. Selain pendidikan keluarga yang tentu sangat penting, bentuk
pendidikan lainnya yang perlu anak jalani adalah pendidikan formal yaitu
sekolah. Sekolah membantu anak mengembangkan kapasitas intelektualnya. Untuk
bisa membantu menumbuhkembangkan diri anak dibutuhkan sekolah yang benar-benar
menghargai keunikan anak sebagai pribadi yang berharga.
Sekolah
yang baik adalah sekolah yang tidak hanya punya fasilitas bagus namun juga
mengedepankan dan mementingkan proses pendidikan yang diselenggarakan di
sekolah. Saat ini banyak anak stress karena sekolah. Proses belajar yang
seharusnya menyenangkan dan merupakan bagian dari kebutuhan anak telah berubah
menjadi satu pengalaman yang kurang/tidak menyenangkan. Itu sebabnya mengapa
ada banyak orang yang merasa begitu gembira setelah menyelesaikan belajar karena
mereka terbebas dari beban yang namanya belajar dan sekolah. Tidak hanya anak
yang stress. Orangtua, khususnya para ibu, juga stress bila harus membantu anak
mengerjakan tugas dan menghadapi ujian.
Pendidikan
tidak terlepas dari sosok yang sangat besar peranan di dalamnya, ia tidak
pernah lelah untuk memberikan ilmu dan bimbingan yang terbaik dicurahkan dengan
segenap tenaga dan pikirannya, dialah guru, penginspirasi, pemotivasi dan penunjuk
kedalam jalan kebenaran, tabah dalam mendidik, sabar dalam mengajar, mendidik
dengan hati, mengajar dengan pikiran. Guru
merupakan profesi yang sangat menguntungkan, ada tiga agenda mulia
menjadi guru yaitu menyeru, mengajak dan mencegah dan semuanya dilakukan secara
ikhlas. Ia memiliki investasi abadi sebagai bentuk sedekah jariah ilmu yang
bermanfaat dan akan melahirkan siswa yang saleh mendoakan orangtua (guru).
Namun perlu diwaspadai menjadi guru agar tidak timbul rasa cemburu maka
bersamaan akan muncul kehilangan rasa ikhlas akhirnya kehilangan semangat dalam
pengabdian.
Dalam
menjalankan fungsinya, guru perlu mempertimbangkan dua hal utama, yaitu
mengawal fitrah setiap anak dan bertanggung jawab membekali anak didik
menjalankan fungsi khalifah di muka bumi. Dua konsep dasar inilah dijadikan
panduan utama dalam pengembangan sebuah konsep pendidikan di sekolah. Dengan
materi pengajaran tentang ketauhidan, birrul walidain, berbuat ihsan,
menyuruh shalat, berdakwah, mengajarkan sabar, bersikap rendah hati dan santun
kepada orang lain. Guru perlu memahami bahwa ada tiga jalur masuknya ilmu
melalui penglihatan, pedengaran dan hati. Butuh keterampilan seseorang dalam
menanamkan materi secara tepat.
Pengembangan
materi ajar diintegrasikan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam berTuhan
(keyakinan). Mengenalkan tentang Tuhan, yakni Allah sebagai rabb.
Menghindarkan peserta didik agar tidak syirik. Pendidikan membangun rasa hormat
dan patuh kepada orangtua, menumbuhkan motivasi kuat untuk beribadah,
membiasakan tata tertib. Keinginan untuk berdakwah, berkarakter sabar, rendah
hati serta santun kepada orang lain dalam bergaul.
Akhlak Siswa Terhadap Guru
Di
samping guru dituntut punya karakter istimewa tersebut, para siswa juga
dituntut hal yang sama, berdasarkan ayat ke 43 QS. An-Nahl [16] yang berbunyi:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٤٣)
Artinya: dan Kami tidak
mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada
mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu
tidak mengetahui.
Dari ayat tersebut ditafsirkan oleh
al-Ghazali. Al-Ghazali merupakan salah seorang pemikir muslim yang menekuni
berbagai bidang keilmuan secara mendalam termasuk dalam bidang pendidikan
Islam. Dia merinci akhlak murid terhadap guru:
1. Memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki guru, sebagaimana
sabda Rasulullah saw :
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا
Artinya: “Tidak termasuk golongan kami orang
yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih
muda.” ( HSR. Ahmad dan At-Tirmidzi )
2. Mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat,
sebagaimana sabda Rasulullah saw :
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ
بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Allah
mudahkan baginya dengannya jalan menuju syurga.” ( HR. Ahmad,
Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )
3. Datang ke tempat belajar dengan penampilan yang rapi,
sebagaimana sabda Rasulullah saw :
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan
suka kepada keindahan.”( HR. Ahmad, Muslim dan Al-Hakim )
4. Diam memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan, sebagaimana
hadits Abu Sa’id Al-Khudri ra.
وَ سَكَتَ النَّاسُ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِمْ الطَّيْرَ
Artinya: “Orang-orang pun diam seakan-akan ada
burung di atas kepala mereka.” ( HR. Al-Bukhori )
5. Bertanya kepada guru bila
ada sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik. Allah berfirman :
Rasulullah saw bersabda :
أَلاَ سَأَلُوْا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ
السُّؤَالُ
Artinya: “Mengapa mereka tidak bertanya
ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari ketidaktahuan adalah bertanya ?” ( HSR.
Abu Dawud )
6. Menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya,
sekedar mengolok-olok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang buruk, oleh
karena itu Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَسْأَلُوْا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ
Artinya: “Wahai orang-orang yang
beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang bila dijawab
niscaya akan menyusahkan kalian.” ( Qs. Al-Maidah [5]: 101 )
7. Menegur guru bila
melakukan kesalahan dengan cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda Rasulullah
:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ , قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ لِلَّهِ وَ
لِكِتَابِهِ وَ لِرَسُولِهِ وَ لأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَ عَامَّتِهِمْ
Artinya: “Agama adalah nasihat.” Kami (
Shahabat ) bertanya : “Untuk siapa ?” Beliau menjawab : “Untuk menta’ati Allah,
melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rasul-Nya untuk para pemimpin kaum muslimin
dan untuk orang-orang umum.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll
)
8. Memberi salam terlebih
dahulu kepada guru apabila menghadap atau berjumpa dengan beliau.
9. Mengetahui dan memahami
hak-hak yang harus diberikan gurunya dan tidak melupakan jasanya.
10. Bersikap sabar jika menghadapi seorang guru yang memiliki
perangai kasar dan keras.
11. Duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang, merendahkan
diri, hormat sambil mendengarkan, memperhatikan, dan menerima apa yang
disampaikan oleh gurunya.
12. Tidak berburuk sangka
terhadap apa yang dilakukan oleh guru (
guru lebih mengetahui tentang apa yang dikerjakannya).
13. Ketika guru sedang memberi penjelasan/berbicara hendaklah murid
tidak memotong pembicaraannya. Kalaupun ingin menyanggah pendapat beliau maka
sebaiknya menunggu hingga beliau selesai berbicara dan hendaknya setiap
memberikan sanggahan atau tanggapan disampaikan dengan sopan dan dalam bahasa
yang baik.
14. Murid harus berkata jujur apabila guru menanyakan suatu hal
kepadanya.
15. Menyempatkan diri untuk bersilaturahim ke rumah guru di
waktu-waktu tertentu, sebagai bentuk rasa sayang terhadap beliau.[1]
PENUTUP
Demikian beberapa
akhlak siswa terhadap guru yang wajib kita lakukan. Sebagai siswa Spensabaya,
sekolah favourit yang terpandang di Surabaya, pasti ingin memperoleh ilmu yang bermanfaat,
keberkahan hidup di dunia dan akhirat, maka praktikkanlah! Ada istilah, bila seorang siswa mengganggu
atau berbuat jahil dengan siswa yang lain disebut bullying. Sekarang
lebih parah lagi, hal tersebut dilakukan di dunia maya atau sosial network
sehingga semua orang bisa membaca dan memberikan komentar. Perilaku ini disebut
cyberbullying. Bahkan bukan antara siswa dengan siswa, efek dari
menurunya rasa hormat terhadap guru tersebut berdampak pada guru lain bahkan
sekolah, yang dikenal dengan istilah cyberbaiting. Dengan cara siswa
merekam atau membuat tulisan yang berisi ejekan atau kata-kata tidak sopan
terhadap seorang guru ataupun sekolah. Sehingga bisa menimbulkan pendapat
negatif dari masyarakat netizen yang malahan belum tahu duduk masalah yang
sebenarnya.
Semoga tulisan
singkat ini bisa memotivasi penulis dan teman-teman untuk berakhlak mulia,
sehingga kelak akan menjadi generasi yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.
Amin
DAFTAR PUSTAKA
Sulhan, Najib, 2016, Guru yang Berhati Guru,
Jakarta, Zikrul Hakim
Ghazali, Imam al,
1968, Ihya Ulumiddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama), Terjemahan
Prof. Tk. H. Ismail Yakub SH, MA, Singapura : Victory Ajensi
https://www.dakwatuna.com/2017/01/17/85015/guru-berhati-guru/#ixzz57N0Mpb8y , diakses tgl 17 Pebruari 2018.
http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/hormat-dan-patuh-kepada-guru.html, diakses tgl 16 Pebruari 2018.
https://rizkiwirsa.wordpress.com/2015/03/08/makalah-agama-tentang-hormat-dan-patuh-kepada-orang-tua-dan-guru/, diakses tgl 17 Pebruari 2018
https://id.wikipedia.org/wiki/Guru,
diakses 18 Pebruari 2018
[1]
Imam al Ghazali, 1968, Ihya Ulumiddin
(Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama), Terjemahan Prof. Tk. H. Ismail
Yakub SH, MA, Singapura : Victory Ajensi, Juz II, halaman 76-89
Komentar
Posting Komentar